Header Ads

Kenapa Iman Manusia Naik Turun?

Teman-teman pernah merasakan iman kita sedang baik-baiknya, berada pada tingkat tertinggi, ingat kehidupan akhirat, ingat akan dosa-dosa kita, takut akan siksa-Nya, atau malah kadang turun drastis?? Terlena akan nikmat sesaat, berfoya-foya, bersombong atas diri sendiri, menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, merasakan seakan-akan kita hidup selamanya di dunia? hmm.. Itulah manusia, kadang ada saatnya ingat, terkadang juga ada saatnya lupa. Mungkin saat ada masalah, kita akan merasa lemah, tidak berdaya dan menginginkan tempat bersandar yaitu kepada Allah SWT. Namun, ada kalanya juga saat hidup kita telah berjalan normal, rezeki sudah berlebih, kebahagiaan sudah terasa, cita-cita telah tercapai, tapi ternyata kita lupa pada Sang Pemberi. Kita malah berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang, menghabiskan waktu dengan rutinitas yang tidak bermanfaat, berlupa tidak bersyukur, bahkan kita meninggalkan segala kewajiban dan ibadah kita. Subhanallah.


”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah “. (HR.Ibnu Hibban).

Pengaruh naik turunnya iman kita banyak sekali. Ada pengaruh dari dalam diri kita sendiri dan pengaruh yang datangnya dari luar diri kita. Yang pertama dari dalam diri kita sendiri. Misalnya ketika kita mengikuti pengajian-pengajian, saat kita hanyut dalam kekhusyukan beribadah, saat mengingat mati, mengingat dosa, maka yang kita rasakan adalah selalu ingat pada-Nya. Sebaliknya kita akan lupa saat segala yang kita inginkan, beberapa do'a dan harapan kita telah dikabulkan oleh-Nya, mendapat rezeki cukup, maka kita terlena dan lupa akan segala perintah dan larangan-Nya. Di situlah saat kondisi iman kita berada di atas dan mulai menurun yang pengaruhnya berasal dari diri kita sendiri.Yang kedua adalah pengaruh naik turunnya iman kita dari pihak luar diri kita. Ingatlah kembali saat kita mengikuti pengajian-pengajian, mendengarkan ceramah, nasihat-nasihat, membaca buku islami, melihat bencana, maka iman kita pun tumbuh seiring tergugahnya rohani kita. Sebaliknya saat teman-teman kita mengajak bersenang-senang, melakukan kegiatan hobi bersama teman-teman kita hingga lupa waktu, membicarakan keburukan orang lain sambil tertawa terbahak-bahak, maka setan akan sangat mudah membisikkan ajakan-ajakan meninggalkan kewajiban dan mengacuhkan larangan-larangan-Nya.



Dalam kajian ahad pagi yang berlangsung di Masjid AR Fachrudin seminggu kemarin, Pak Rektor UMM Pak Muhadjir Effendy, MAP. memaparkan bahwa memang kita sebagai manusia memiliki kekhususan yaitu lupa dan sombong. Saat seseorang sedang berjuang untuk meraih cita-citanya, maka dia akah berusaha sekuat mungkin mendapatkannya, namun saat telah mendapatkannya terkadang manusia tidak merawatnya dan tak sedikit yang melupakannya. Itulah ibarat tingkat keimanan kita. Memang tingkat keimanan manusia bisa naik atau turun. namun yang jadi permasalahan di sini adalah bagaimana cara kita agar keimanan kita tersebut tidak terlalu sering turun? Maka jawabannya adalah stabilkan tingkat iman kita pada tingkat yang mendekati tinggi. Upayakan tingkat iman terendah kita berada pada posisi pertengahan, dan selebihnya raihlah tingkat tertinggi iman kita dengan selalu bercermin pada orang-orang sholeh di sekitar kita.

Semoga kita selalu diberi kesempatan terus bernafas menegakkan iman, dan jikalau kita terlupa maka mohonlah selalu agar diingatkan oleh-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena kesabarannya berjuang menjaga dan mempertahankan iman. Allah maha melihat.
Diberdayakan oleh Blogger.